Pustaka Serangga

Mengenal, memahami, mengelola

Majalah SERANGGA

leave a comment »

Dear readers,

Saya (kami) akan meluncurkan majalah bernama SERANGGA, Insya Allah pada pertengahan Oktober 2010. Mohon doanya agar majalah ini dapat mewujudkan cita-cita saya untuk berbagi pengetahuan tentang serangga. Makhluk kecil yang indah ini demikian akrab dengan manusia, namun belum banyak yang memahaminya secara utuh. Oleh karena itu, saya sangat ingin untuk berbagi dan sekaligus belajar dari pembaca yang budiman, agar kita mendapatkan pengetahuan tentang serangga ini dengan lebih utuh.

Saya (kami) juga mengundang pembaca budiman untuk mengisi rubrik “Lembar Karya” dengan karya puisi, gambar (coretan), atau desain (grafis) tentang serangga; dan rubrik “Forum” yang berisi tentang hasil pengamatan atau penelitian (kecil atau besar). Syaratnya mudah: karya harus orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media sejenis. Nah, tunggu apalagi? Silakan kirimkan karya pembaca budiman melalui alamat e-mail (sementara): nugrohoputra27@gmail.com.

Ini adalah gambar tampak muka dari majalah SERANGGA;

Ditunggu ya karyanya….

Regards,

Nugroho

Written by nsputra

September 29, 2010 at 3:03 pm

Posted in Majalah SERANGGA

Peran penting serangga di alam

leave a comment »

Agaknya, serangga adalah binatang yang paling sering berinteraksi dengan manusia. Anda tentu tidak asing dengan binatang kecil berkaki enam, misalnya semut, nyamuk, lalat, kecoa, kupu-kupu, lebah, tawon, dan sebagainya. Sampai saat ini, lebih dari 1 juta spesies serangga yang mencakup serangga darat (sebagian besar), dan serangga yang hidup di air telah berhasil diidentifikasi, namun para ahli memastikan bahwa lebih banyak spesies masih menunggu giliran untuk diidentifikasi. Selanjutnya, kemelimpahan serangga mencapai 80 persen dari total kemelimpahan organisme di muka bumi. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa serangga adalah organisme yang mendominasi rantai dan jejaring makanan di hampir semua jenis ekosistem. Mereka mungkin menghuni jaringan tumbuhan sebagai herbivora, menghuni celah-celah sempit di antara bebatuan sebagai peliang, membangun kubah-kubah yang keras sebagai sarang komunitas mereka yang melimpah, menghuni perairan sebagai pakan maupun pemangsa organisme lain, menghuni rhizosfer tumbuhan sebagai pengurai bahan organik, dan di banyak tempat yang lain.

Menilik hal-hal tersebut, kita dapat menduga bahwa serangga mempunyai peran ekologis dan ekonomis yang amat penting. Secara ekologis, serangga berperan sebagai komponen rantai makanan; mungkin sebagai herbivora, karnivora, pengurai (detritivora), dan penyerbuk. Sementara itu, secara ekonomis, serangga dapat menjadi hama, musuh alami, atau vektor penyakit tanaman, binatang, dan manusia.

1. Pemakan tumbuhan (herbivora)

Banyak serangga makan pada tumbuhan, dan sebagian di antara mereka ditasbihkan manusia menjadi serangga yang merugikan (disebut hama). Banyak jenis ulat (larva kupu-kupu dan ngengat) menjadi hama penting pada tanaman, misalnya Plutella xylostella (hama tanaman kubis-kubisan), wereng coklat Nilaparvata lugens (hama pengisap pada batang padi), belalang Locusta migratoria adalah pemangsa rakus hampir segala jenis tumbuhan yang mereka temui di sepanjang jalan yang mereka lalui, dan banyak jenis yang lain.

Secara alamiah, serangga herbivora berperan sebagai pengontrol kemelimpahan tumbuhan. Pada beberapa kasus, serangga herbivora dimanfaatkan untuk mengendalikan pertumbuhan tumbuhan pengganggu (gulma). Lalat gall Procecidochares connexa misalnya, digunakan untuk mengendalikan gulma siam, selain ulat ngengat Pareuchaetes pseudoinsulata.

2. Pemakan daging (karnivora)

Di lain pihak, Anda dapat menemukan musuh alami masing-masing “hama” di atas, misalnya tawon parasitoid Diadegma insulare (musuh alami P. xylostella), atau kumbang koksi (musuh alami wereng coklat). Jika Anda cermati, musuh alami tersebut akan “mengontrol” kemelimpahan serangga inang atau mangsanya, sehingga selalu berkisar pada ambang yang “normal”. Semut rangrang yang Anda sangka “buas” karena selalu menggigit jika diganggu, adalah pemangsa banyak jenis hama.

Sumber: en.wikipedia.org

Namun, kelompok serangga karnivora ini mungkin dianggap merugikan manusia. Nyamuk adalah salah satu contohnya. Aktivitas nyamuk betina mengisap darah mamalia (termasuk manusia) ternyata dapat menularkan penyakit. Malaria, Demam Berdarah Dengue, Kaki Gajah (Elephantiasis) dan Cikungunya adalah contoh-contoh penyakit pada manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit Chagas ditularkan oleh kepik Triatoma, dan Penyakit Tidur (Sleeping Sickness) ditularkan oleh lalat Tse-Tse (Glossina palpalis).

3. Perombak bahan organik

Di samping dua kelompok serangga di atas, Anda dapat pula menemukan serangga-serangga pengurai, misalnya rayap. Rayap berperan penting dalam peristiwa penguraian kayu dan bahan-bahan dari tumbuhan dengan bantuan protozoa dan bakteri di dalam usus belakang yang berfungsi sebagai pemecah selulosa, sehingga membantu pengubahan “gundukan sampah” tumbuhan menjadi bahan-bahan yang dapat digunakan kembali, baik oleh  si rayap sendiri maupun oleh tanah sebagai bahan penyubur. Beberapa contoh bakteri simbion pemecah selulosa pada rayap adalah bakteri fakultatif Serratia marcescens, Enterobacter aerogens, Enterobacter cloacae, dan Citrobacter farmeri diketahui menghuni usus belakang rayap spesies Coptotermes formosanus (famili Rhinotermitidae) dan berperan memecah selulosa, hemiselulosa dan menambat nitrogen. Penelitian lain menemukan protozoa simbion yang hidup pada usus rayap C. formosanus, misalnya Pseudotrichonympha grassi, Holomastigotoides hartmanni, dan Spirotrichonympha leidyi yang juga membantu rayap dalam mencernakan bahan berkayu. Sementara itu, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada usus kecoa Blaberus giganteus pemakan kayu. Selain itu, aktivitas rayap membuat sarang di dalam tanah juga membantu menggemburkan tanah, sehingga pertukaran udara di dalam tanah menjadi lebih baik.

4. Penyerbuk

Penyerbukan oleh serangga pada tumbuhan disebut entomofili. Hubungan antara serangga penyerbuk dengan tumbuhan yang diserbukinya kadang-kadang sangat dekat (bersifat obligat), misalnya, hubungan antara tumbuhan Yucca (famili Agavaceae) dengan ngengat Yucca (Lepidoptera: Prodoxidae) yang berkisar antara mutualisme obligat sampai antagonis (larva ngengat berperan sebagai herbivora). Dua genera ngengat prodoxid, yaitu Tegeticula dan Parategeticula berperan sebagai penyerbuk obligat pada tumbuhan Yucca, sementara genera ketiga, yaitu Prodoxus lebih berperan sebagai pemakan (biji) Yucca. Hubungan mutualisme obligat serupa juga ditunjukkan oleh tumbuhan fig (genus Ficus) dan serangga penyerbuk, tawon fig (ordo Hymenoptera, subfamili Agaoninae).

Sementara itu, kupu-kupu, lebah, dan tawon adalah serangga penyerbuk yang bersifat fakultatif (tidak mempunyai hubungan yang sangat khas seperti beberapa contoh di atas). Pernahkah Anda perhatikan, bagaimana lebah mengunjungi bunga? Sambil mencari cairan madu (nektar), mereka juga mengumpulkan serbuk sari di sekujur tubuhnya. Nah, serbuk sari inilah yang secara tidak sengaja akan menempel pada putik bunga lain yang dikunjunginya, sehingga terjadilah penyerbukan!

Sumber: en.wikipedia.org

5. Sumber gizi dan energi

Para ahli menunjukkan bahwa serangga mengandung protein yang cukup tinggi. Risalah yang ditulis oleh Sutton (1995) menunjukkan bahwa manusia zaman purba sudah memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan. Entomofagi atau ilmu yang mempelajari pemanfaatan serangga oleh manusia, terutama sebagai bahan makanan telah berkembang. Sebelumnya, Frye dan Calvert (1989) membuktikan bahwa energi yang terkandung dalam tubuh serangga cukup tinggi, sehingga potensial digunakan sebagai sumber makanan. Ulat sutra (Bombyx mori) dan ulat hongkong (kumbang Tenebrio mollitor) yang mereka amati mengandung kalori rata-rata 5 sampai 6,5 kkal/ g berat kering tubuh.

Budaya memakan serangga ini terdapat di berbagai negara di dunia, terutama pada penduduk asli, meskipun kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh masyarakat modern di perkotaan. Bangsa Indian Amerika terbukti telah memanfaatkan beberapa jenis serangga, terutama larva ngengat dan kumbang dalam menu makanan mereka, demikian pula dengan banyak suku di benua Afrika. Di Indonesia, penduduk Papua memanfaatkan larva kumbang sagu (famili Curculionidae) sebagai sumber pangan. Di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, penduduknya menyukai belalang kayu (famili Acrididae) sebagai lauk yang lezat dan menyehatkan. Laron dan larva lebah juga menjadi menu favorit penduduk di daerah tertentu di pulau Jawa.

6. Penghasil bahan berguna

Banyak serangga yang menghasilkan bahan yang dibutuhkan oleh manusia. Lebah madu menghasilkan madu, royal jelly, propolis, malam, dan larva serta pupanya menjadi kudapan yang lezat; kutu Kerria lacca (Hemiptera: Kerriidae) menghasilkan lak, sejenis bahan pembuat pernis; dan ulat sutra, misalnya spesies Bombyx mori (Lepidoptera: Saturniidae) menghasilkan sutra yang mahal harganya. Pada dekade terakhir, ditemukan pula beberapa spesies ngengat liar, misalnya genus Cricula yang ternyata mampu menghasilkan sutera yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan sutera dari Bombyx.

Penelitian terkini bahkan memperlihatkan bahwa rayap ternyata mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bioreaktor untuk menghasilkan hidrogen. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa beberapa spesies rayap mampu menghasilkan dua liter hidrogen hanya dari selembar kertas dengan memanfaatkan lebih kurang 200 spesies mikroorganisme di dalam ususnya (silakan berkunjung ke laman http://www.jgi.doe.gov/ education/bioenergy/bioenergy_4.html). Potensi luar biasa ini dipelajari lebih lanjut untuk menghasilkan hidrogen melalui cara yang lebih efisien dan aman, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil untuk menggerakkan listrik yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen.

Pustaka

  1. Aldrich, J.M., 1912. Larvae of a saturniid moth used as food by California Indians. Journal of the New York Entomological Society 20: 28-31.

  2. Althoff, D. M., K.A. Segraves, & J.P. Sparks. 2004. Characterizing the interaction between the bogus yucca moth and yuccas: do bogus yucca moths impact yucca reproductive success? Oecologia 140: 321-327.

  3. Essig, E.O., 1934. The value of insects to the California Indians. The Scientific Monthly 38: 181-186.

  4. Frankie, G.W., & R.W. Thorp. 2003. Pollination and pollinators. Dalam: V.H. Resh & R.T. Carde (editor), Encyclopedia of Insects, Academic Press, Amsterdam, halaman 919 – 926.

  5. Frye, F.L., & C.C. Calvert. 1989. Preliminary information on the nutritional content of mulberry silk moth (Bombyx mori) larvae. Journal of Zoo and Wildlife Medicine 20: 73-75.

  6. Knight, C.G. 1971. The ecology of African sleeping sickness. Annals of the Association of American Geographers 61: 23-44.

  7. Mims, F.M., B.N. Holben, T.F. Eck, B.C. Montgomery, & W.B. Grant. 1997. Smoky skies, mosquitoes, and disease. Science 276: 1774-1775.

  8. Sutton, M.Q., 1995. Archaeological aspects of insect use. Journal of Archaeological Method and Theory 2: 253-298.

Written by nsputra

September 29, 2010 at 2:00 pm

Posted in Blog

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.